Jakarta, Hariantimes.com - 
Buku puisi dua penyair perempuan Indonesia diperbincangkan serius dalam ke" />
 
Home | Nasional | Riau | Ekonomi | Politik | Hukrim | Pendidikan | Sportivitas | Sosialita | Wisata | Indeks Kamis, 17 Agustus 2019
 
Buku Puisi Dua Penyair Perempuan Indonesia Diperbincangkan di Jakarta
Minggu, 28 April 2019 - 16:23:55 WIB
Buku puisi dua penyair perempuan Indonesia diperbincangkan serius dalam kegiatan Bincang Buku di PDS HB Jassin, TIM Jakarta, Sabtu (27/04/2019).

Jakarta, Hariantimes.com
Buku puisi dua penyair perempuan Indonesia diperbincangkan serius dalam kegiatan Bincang Buku di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Sabtu (27/04/2019).

Buku puisi itu masin-masing berjudul Calung Penyukat karya Kunni Masrohanti asal Riau dan Hikayat Tanah Jawara karya Rini Intama asal. Banten, 


Kegiatan yang ditaja Dinas Perpustakaan DKI Jakarta dan PDS HB Jassin ini dihadiri banyak penyair dan sastrawan Indonesia. Di antaranya, Presiden penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, Fikar W Eda,  Asrizal Nur, Waluyo Dimas, Endah Sulawesi, Kurniawan Effendy, Eddy Pramduance, Joserizal Manua, Devie Matahari,  Romy Sastra, Shobirin, Ariany Isnamurti, Adri dan masih banyak lainnya. Dihadiri juga berbagai komunitas seperti  Dapur Sastra Jakarta (DSJ), Forum Sastrawan Indonesia (FSI),  Negeri Poci,  Perkumpulan Rumah Seni Asnur, Komunitas Seribu Guru, Dapur Sastra Cisauk (DSC) dan lain-lain.

Bincang buku kali ini menghadirkan dua pembicara, yakni Maman S Mahayana membahas khusus buku Calung Penyukat dan Wahyu Wibowo membahas buku Hikayat Tanah Jawara. Keduanya sebaya. Usia mereka hanya berbeda lima bulan saja dan sama-sama dosen. 

Maman merupakan dosen sastra di Universitas Indonesia (UI) atau dikenal dengan kritikus sastra Indonesia, sedangkan Wahyu merupakan dosen filsafat bahasa di Unas Jakarta. Perbincangan menjadi seriu ketika tamu-tamu yang datang mulai ikut berbagi pandangan dan pendapat, termasuk Sutardji.

Dalam bincang tersebut, Maman membeberkan tentang posisi penyair-penyair dari tanah Melayu dalam kesusasteraan Indonesia. Ini terkait Kunni yang berasal dari Riau, tanah Melayu, asal mula Bahasa Indonesia. 

Maman menceritakan proses kreatifitas Kunni Masrohanti dalam dunia kepenyairannya, mulai dari buku pertama berjudul Sunting yang diawali dengan pengantarnya, buku Perempuan Bulan yang diluncurkan di Jakarta dan juga ia hadiri serta buku Calung Penyukat tersebut. Jika pada kedua buku sebelumnya Kunni masih mencari-cari fokus pembahasan dan pemikiran, pada buku Calung Penyukat, Kunni diakui Maman sudah lebih matang.

‘’Dalam buku Calung Penyukat, Kunni bercerita tentang masa kecilnya tapi tidak terlepas dari persoalan tradisi, budaya dan petuah. Sudah lebih fokus dan lebih matang dibandingkan dua buku sebelumnya. Dalam buku ketiga ini juga kaya dengan kosa kata bahasa Melayu yang kuat, yang lebih mudah bagi Kunni sebagai orang Riau karena Melayu Riau sangat kuat dan dari sinilah Bahasa Indonesia bermula. Memang, cukup kesulitan bagi orang lain yang tidak memahami Melayu atau belum datang ke Riau karena kosa kata tidak dilengkapi dengan keterangan. Akan sedikit menjadi kendala. Tidak masalah karena dengan begini menunjukkan bahwa ini karya puisi asli,’’ beber Maman.

Sutardji yang datang di pertengahan Bincang Diskusi juga mengakui hal serupa. Presiden penyair Indonesia ini mengaku telah membaca karya-karya puisi Kunni sebelumnya sehingga ia mengakui Kunni semakin matang dalam karyanya. Sutardji menyebutkan, puisi atau karya sastra merupakan hasil kematangan jiwa dan penngalaman pribadi sang penulisnya. Begitu juga dengan Kunni yang menulis pengalaman masa kecilnya berupa kenangan-kenangan dalam karya puisi yang matang, menghasilkan kata yang memberi makna pada kata yang lain.

Puisi bukan hanya sekedar kata-kata. Tapi kata-kata yang bisa memberi makna pada kata yang lain, yang membuat kata-kata menjadi hidup, mengandung makna yang dalam. Kenangan yang ditulis Kunni adalah kenangan yang menghasilkan cahaya, karena kenangan itu sendiri adalah cahaya karena ditulis sedemikian rupa dengan kedalaman makna dan kata. Benar yang dibilang Maman, Kunni telah matang dalam karyanya kali ini. 

Ia menceritakan kebiasaan buruk seorang gadis yang duduk di depan pintu dan dilarang dalam adat tradisi  kampungnya lalu menulisnya dalam puisi yang molek. Ada judul puisi alift terakhir, juga ditulis dengan kedalaman makna, kenangan yang bercahaya. Tradisi kental dalam karya-karyanya kali ini,’’ kata Tardji panjang lebar.

Wahyu Wibowo juga membahas Hikayat Tanah Jawara karya Rini Intama dengan dalam dan gamblang. Buku puisi berlatarbelakang sejarah ini menjadi perhatian Wahyu. Bahkan ia merasa bangga karena ada penyair perempuan seperti Rini yang mau menulis puisi tentang atau berlatarbelakang sejarah, meski sejarah, tradisi, mitos dan jenis-jenis lainnya sudah pernah ditulis para penyair pendahulu. Apa yang dilakukan Rini, diakui sebagi uapaya menjaga agar tidak lupa pada sejarah. 

‘’Perempuan yang menulis puisi dengan latarbelakang sejarah. Ini sempat membuat saya tercengang. Kok ada ya, perempuan lagi. Ini luar biasa. Jarang yang mau menulis seperti ini. Ini  upaya Rini agar sejarah tidak terlupakan dan semakin dicintai,’’ kata Wahyu.

Seperti kepada Kunni, Tardji juga menyampaikan banyak al kepada Rini tentang keinginannya yang menulis puisi-puisi dengan latar belakang sejarah. ‘’Antara puisi dan sejarah harus saling menguatkan. Jangan sampai saling memperbudak dan memperdaya. Boleh-boleh saja menulis sejarah tapi jangan sampai puisi diperbudak sejarah,’’ katanya pula.

‘’Kenapa saya memilih sejarah sebagai latar belakang puisi saya, karena saya melihat sejarah masih diabaikan, belum diperhatikan dengan baik,’’ kata Rini. 

Perbincangan yang diatur penyair Sofyan RH Zaid sebagai moderator itu semakin hangat ketika Sofyan menyebutkan perempuan dan keberadaannya saat ini. Apalagi ketika Sofyan mengungkapkan banyak penyair perempuan Indonesia yang dulunya aktif, lalu kemudian hilang dari peredaran alias tidak muncul lagi setelah menikah. Hal ini juga sempat memancing Maman dan Wahyu sedikit menyinggung hal tersebut. Bincang Diskusi diakhir dengan pembacaan puisi Kunni dan Rini oleh penyair yang hadir.

Kunni juga mengungkapkan alasan mengapa ia mengusung tradisi dan budaya sebagai sumber isnpirasi dalam puisi-puisinya. 

‘’Saya dan mbak Rini juga suka selfie, mungkin juga penyair sosialita seperti yang dibilang Sofyan, tapi kami tetap konsisten mengembalikan puisi sebagai karya teks dengan terus melahirkan buku. Kenapa saya memilih tradisi dan budaya sebagai sumber inspirasi dalam puisi, karena perempuan adalah sumber tradisi itu sendiri. Dan dalam Calung Penyukat ini, saya banyak menggunakan kosa kata Melayu karena salah satu fungsi sastrawan juga turut memelihara bahasa itu sendiri,’’ kata Kunni pula.
      
Bincang buku tersebut disambut gembira oleh Dinas Perpustakaan DKI Dan segenap pimpinan PDSHB Jassin.  Hal ini disampaikan Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pemprov DKI Jakarta Drs Bambang Chidir SMSi saat menyampaikan elu-eluan di seluruh peserta Bincang Buku yang hadir. 

''Kami sangat sedang ada kegiatan Sastra seperti ini. Sering-seringlah buat di sini  dan tak ada pungutan biaya sesikitpun alias gratis,'' kata Bambang yang diakhiri dengan penyerahan buku dari Kunni dan Rini usai sambutan tersebut.(*/ron)



 
Berita Lainnya :
  • Buku Puisi Dua Penyair Perempuan Indonesia Diperbincangkan di Jakarta
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Menteri Siti Jadikan Dialog Sebagai Budaya Kerja
    02 Pengurus NPC Meranti Jaring Atlit Difabel Berpotensi
    03 FJPI dan UIR Seminarkan RUU KUHP
    04 SMP Kristen Kalam Kudus Selatpanjang Taja Bulan Bahasa
    05 PPID Pemprov Riau Berkolaborasi Dengan KI
    06 Masyarakat Bukit Batu Tolak Unjuk Rasa Anarkis Terorisme dan Faham Radikalisme
    07 Kabut Asap Masih Selimuti Negeri Jalur, LAMR Kuansing Bagikan Seribuan Masker Gratis
    08 Legislator Termuda Meranti Ajak Pemuda Berperan Aktif dan Kreatif
    09 Masyarakat Kuansing Serukan Anti Unras Anarkis, Terorisme dan Radikal
    10 Pengurus DPC LAN Meranti Audiensi dengan Wabup
    11 Tujuh Pemuda Tebing Tinggi Diciduk Polres Meranti
    12 Apakah Akan Maju? Jontikal : DPP Demokrat Yang Tentukan
    13 Dirut BPJS Kesehatan Paparkan implementasi Program JKN-KIS
    14 Bupati: Segera Susun Rencana APBDes untuk Dijalankan Tahun Depan
    15 Turnamen PBSI Cup 2019 Berhadiah Total Rp9.5 Juta
    16 Wabup: Hati-Hati dalam Pengunaan Dana Desa
    17 Rambo: Saya Siap Maju
    18 Edu: Saya Tidak Teken Selama Belum Selesai
    19 YH : IAPPIL UR Dukung Pelantikan Presiden dan Wapres RI
    20 Bupati: Persatuan dan Kesatuan yang Terbina Selama Ini Perlu Kita Jaga
    21 Tahun ini, Pemerintah Pusat Anggarkan Rp6,6 Miliar
    22 Tiga Siswa MAN Insan Cendekia Siak Harumkan Nama Riau
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami
    © HarianTimes.Com - #Kanal Informasi Public