Pekanbaru, Hariantimes.com - Lebih dari seratus orang mahasiswa 
 
Home | Nasional | Riau | Ekonomi | Politik | Hukrim | Pendidikan | Sportivitas | Sosialita | Wisata | Indeks Kamis, 17 Agustus 2019
 
Ceramah Sastra di Kampus UIR
Dr Malim Ungkap Keberadaan Sastra dan Bahasa Melayu di Dunia
Senin, 07 Oktober 2019 - 22:47:11 WIB
Suasana ceramah sastra, Senin (07/10/2019) pagi.

Pekanbaru, Hariantimes.com - Lebih dari seratus orang mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia FKIP Universitas Islam Riau (UIR) secara serius mendengarkan ceramah Sastrawan Malaysia, Dr Malim Ghozali PK, Senin (07/10/2019) pagi.

Turut hadir Dekan, Drs. Alzaber MSi, WD II Dr Sudirman Shomary, Krtua Prodi Bahasa, Muhammad Mukhlis dan dua sastrawan Riau, Dr Husnu Abadi dan Ir Fakhrunnas MA Jabbar, MIKom serta para dosen.

Dekan FKIP UIR, Drs Alzaber MSi dalam sambutan pembukaannya mengatakan, ceramah sastra oleh Dr Malim Ghozali PK sangat besar manfaatnya bagi para mahasiswa dalam memperluas wawasan dan pengetahuan. Lebih dari itu, diharapkan dapat memotivasi mahasiswa dan generasi muda untuk ikut berkarya sebagaimana sudah dialami para sastrawan.

''Saya merasa regenerasi sastrawan di Riau (khususnya UIR, red) terasa lambat. Dalam pengamatan saya yang dangkal, setelah generasi Dr Husnu dan Ir Fakhrunnas, belum banyak muncul sastrawan muda. Oleh sebab itu, setelah ceramah ini bakal ada mahasiswa yang terinspirasi jadi sastrawan  pelanjut,'' kata Alzaber yang ahli matematika ini.

Dr Malim Ghozali PK dalam ceramahnya mengungkapkan bagaimana keberadaan sastra dan bahasa Melayu di dunia. Berdasarkan pengguna bahasa Melayu yang mencapai  300 juta telah menempatkan bahasa Melayu nomor lima di dunia. 

Menurut Malim, bangsa tertua di dunia ada di kawasan negara Jibouti. Sedangkan bangsa Melayu merupakan bangsa tertua  nomor dua. Sastra nusantara sangat dipengaruhi oleh aspek bahasa. Sastra harus ada kaitannya  debgan bahasa atau sebaliknya.

''Persoalannya, kenapa sastra Melayu belum tersebar? Bahkan kandidat pemenang    Nobel Sastra juga belum ada yang berasal dari sastra Melayu. Padahal peluang itu selalu ada apabila para sastrawan Asia khususnya pengguna bahasa Melayu berpacu untuk memperkenalkan karya-karyanya berupa puisi, cerpen atau novel ke publik dunia dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris atau bahasa besar dunia lainnya,'' ujar sastrawan 70 tahun yang sudah mengembara ke 55 negara dunia bersama sastra.

Malim menceritakan pengalalamannya mengembara di banyak negara. Tahun 1970 Malim sudah mengembara di Amerika Latin. Malim memuji pemerintah Indonesia karena waktu itu sudah mrnemukan adanya KBRI di negara tersebut. Begitu pula, akhir tahun  1989an l, saat Malim mengunjungi  Suriname menemukan banyak orang   Jawa mencapau 200 ribu orang. Waktu itu sebenarnya sastra budaya Indonesia sudah 'diekspor'  ke sana. Bahkan hingga kini masih ada seni silat, kompang (terbangan) dan sebagainya.

''Saya menulis novel Janji Paramaribo berdasarkan pengalaman saya selama berada di sana,'' tegas Malim yang namanya pernah disebut sebagai kandidat Hadiah Nobel Sastra beberapa tahjn silam.

Dalam  ceramah sastra Malim Ghozali sempat ditayangkan film 'Memo dari Suriname' yang berisi feature perjalanannya selama di ibukota Suriname, Paramaribo.

Dalam kegiatan ini juga disediakan sesi diskusi. Para mahasiswa menanyakan proses kreatif Malim, peran sastra dalam kehidupan dan tips menulis karya kreatif.

Sumbang Buku

Pada kesempatan yang sama, tiga sastrawan masing-masing Malim, Husnu Abadi dan Fakhrunnas secara resmi menyerahkan sumbangan buku-buku sastra karya mereka untuk perpustakaan FKIP UIR. Belasan buku-buku sastra berbagai genre sastra itu secara bergiliran diterima oleh Dekan FKIP UIR, Alzaber.

Di antara tujuh buku yang disumbangkan Malim terdapat novel 'Janji Paramaribo', kumpulan cerpen 'Langit Tidak Berbintang di Ulu Slim' dan lain-lain.

Sementara Husnu Abadi menyumbangkan sejumlah buku puisi karyanya seperti Lautan Melaka serta buku Seribu Gurindam karya Iberamsyah, penyair Kalsel.

Sastrawan Fakhrunnas menyumbangkan buku cerpen Sebatang Ceri di Serambi, Lembayung Pagi, 30 Tahun Kemudian serta buku puisi Airmata Musim Gugur.(*)


Editor: Zulmiron



 
Berita Lainnya :
  • Dr Malim Ungkap Keberadaan Sastra dan Bahasa Melayu di Dunia
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Menteri Siti Jadikan Dialog Sebagai Budaya Kerja
    02 Pengurus NPC Meranti Jaring Atlit Difabel Berpotensi
    03 FJPI dan UIR Seminarkan RUU KUHP
    04 SMP Kristen Kalam Kudus Selatpanjang Taja Bulan Bahasa
    05 PPID Pemprov Riau Berkolaborasi Dengan KI
    06 Masyarakat Bukit Batu Tolak Unjuk Rasa Anarkis Terorisme dan Faham Radikalisme
    07 Kabut Asap Masih Selimuti Negeri Jalur, LAMR Kuansing Bagikan Seribuan Masker Gratis
    08 Legislator Termuda Meranti Ajak Pemuda Berperan Aktif dan Kreatif
    09 Masyarakat Kuansing Serukan Anti Unras Anarkis, Terorisme dan Radikal
    10 Pengurus DPC LAN Meranti Audiensi dengan Wabup
    11 Tujuh Pemuda Tebing Tinggi Diciduk Polres Meranti
    12 Apakah Akan Maju? Jontikal : DPP Demokrat Yang Tentukan
    13 Dirut BPJS Kesehatan Paparkan implementasi Program JKN-KIS
    14 Bupati: Segera Susun Rencana APBDes untuk Dijalankan Tahun Depan
    15 Turnamen PBSI Cup 2019 Berhadiah Total Rp9.5 Juta
    16 Wabup: Hati-Hati dalam Pengunaan Dana Desa
    17 Rambo: Saya Siap Maju
    18 Edu: Saya Tidak Teken Selama Belum Selesai
    19 YH : IAPPIL UR Dukung Pelantikan Presiden dan Wapres RI
    20 Bupati: Persatuan dan Kesatuan yang Terbina Selama Ini Perlu Kita Jaga
    21 Tahun ini, Pemerintah Pusat Anggarkan Rp6,6 Miliar
    22 Tiga Siswa MAN Insan Cendekia Siak Harumkan Nama Riau
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami
    © HarianTimes.Com - #Kanal Informasi Public