Home | Nasional | Riau | Ekonomi | Politik | Hukrim | Pendidikan | Sportivitas | Sosialita | Wisata | Indeks Senin, 01 Agustus 2020
 
Terkait Pemberitaan Karhutla
Humas Kementerian LHK Bikin Monitoring Berita Harian

Editor: | Senin, 30 September 2019 - 15:46:05 WIB
Kunjungan jurnalistik menggali potensi ekowisata di taman nasional yang berlangsung di ruangan pertemuan Kantor Balai TN Bunaken, Manado, Sulawesi Utara, Jumat (27/09/2019).

Manado, Hariantimes.com - Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK RI) membikin monitoring berita harian terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla).


Dari monitoring itu, Humas Kemen LHK mencatat berita pemberitaan terkait karhutla sudah mulai cenderung menurun.


Jika pada berita kemarin itu di media cetak terdapat 20 berita, 15 di antaranya terkait karhutla. Kalau di media online, pada tanggal 26 September 2019 ada 222 berita yang terpantau. 102 di antaranya terkait karhutla.


"Kita di humas itu bikin monitoring berita harian. Kita bikin semacam kliping untuk media cetak dan media online. Nah terkait karhutla ini, kecenderungan beritanya sudah mulai menurun.," ungkap Kepala Sub Bagian Publikasi Biro Hubungan Masyarakat  KLHK, Firdaus pada acara meeting point dalam rangka kunjungan jurnalistik menggali potensi ekowisata di taman nasional yang berlangsung di ruangan pertemuan Kantor Balai TN Bunaken, Manado, Sulawesi Utara, Jumat (27/09/2019).


Sedangkan per tanggal 27 September 2019, sebut Firdaus, sudah menurun jauh yakni menurun 50 persen. Dimana per tanggal 27 September 2019 ada 127 berita terkait lingkungan hidup dan kehutanan. Hanya 56 berita terkait karhutla.


"Itu sudah menurun drastis. Mudah-mudahan dengan semakin banyaknya intensitas hujan, kebakaran hutan dan lahan dimana-mana akan semakin hilang. Nah untuk mengetahui bagaimana pengendalian karhutla di Sulawesi Utara ini, kita lihat tidak ada karhutla dan kabut asap," katanya.


Di kesempatan itu, Kepala Daops Manggala Agni Bitung, Toyib Hambali H Mokoagow SH mengatakan, meski di Sulawesi Utara tidak ada karhutla yang menimbulkan kabut asap. Namun ketika berada di atas pesawat pada siang hari dan dilihat dari posisi utara atau disayap kiri, akan terlihat kepulan asap di sisi kiri. Menanyang sepanjang lebih kurang 15 kilometer. Karena kandungnya malam, maka kepulan asap itu tidak kelihatan. Tetapi di belakang perkampungan ada titik-titik merah kurang lebih  6 hingga 7 kilometer. Titik-titik merah itu adalah garis api, tepatnya di bawah kaki Gunung Kelabat yang statusnya hutan lindung. Tapi dibawahnya banyak sekali perkebunan.


Dalam konteks ini, katanya, di Sulawesi Utara potensi menciptakan kabut asap itu sudah ada. Dimana pada tahun 2015 diakui atau tidak, maka itu harus diakui. Buktinya, pada 2015 itu banyak sekali penerbangan delay di Sulawesi Utara. Yakni di periode Agustus dan September. Harusnya terbang pagi ditunda jam 10. Harusnya terbang jam 12 ditunda sore.


"Dan saat ini, ketika bulan Juni 2019 lalu bahwa potensi-potensi karhutla di Sulawesi Utara itu lengkap. Memanjang dari ujung utara hingga ke selatan. Dan ada dua potensi kabut asap," katanya.


Seperti pada Jumat (09/08/2019) lalu, sekitar dua hektare lahan di wilayah Kelurahan Pinasungkulan Kecamatan Ranowulu terbakar. Api membakar semak-semak dan belukar.


“Laporan awal disampaikan Lurah Pinasungkulan sekitar pukul 10.05 Wita dan langsung kami respon dengan mendatangi lokasi,” kata Hambali.


Rupanya bukan hanya pihaknya yang merespon informasi itu, karena di lokasi sudah ada Tim Respon PT MSM Tokatindung, BPBD Pemkot Bitung dan relawan di sekitar lokasi.


“Semua unsur yang merespon melakukan tindakan dan upaya pada beberapa titik yang berbeda, untuk melakukan pengendalian kejadian Karhutla,” katanya.


Sekitar pukul 12.40 Wita, kata Hambali, sejumlah titik api berhasil dipadamkan termasuk penyisiran dan moping up atau menghabiskan sisa bara untuk menjaga kemungkinan api membesar lagi, karena situasi angin kencang, bahan bakar serta cuaca yang panas.


“Sesuai pandangan mata luas kebakaran sekitar dua hektar. Kami belum dilakukan pengukuran secara akurat karena Manggala Agni fokus pada upaya pemadaman mengingat kejadian Karhutala akhir akhir ini sementara personil sangat terbatas,” katanya.


Hambali berharap masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan mengingat cuaca panas dan berangin untuk menghindari karhutla.


“Mohon juga peran aktif dari pemerintah agar aktif mensosialisasikan kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan untuk tujuan membersihkan kebun,” katanya.


Dikatakannya, aksi pembakaran lahan di sekitar kawasan Cagar Alam (CA) Duasudara seakan tiada akhirnya. Dimana pada Rabu (11/09/2019) hingga Kamis (12/09/2019), terjadi kebakaran lahan di tiga lokasi berbeda yang mengancam kawasan CA Duasudara.


Antara lain terjadi wilayah perkebunan belakang SD Negeri 04 di Kelurahan Batuputih Atas Kecamatan Ranowulu.


Kemudian, Kamis sekitar pukul 08.30 Wita, api kembali membakar lahan Perkebunan Serawet Kelurahan Butuputi Bawah Kecamatan Ranowulu hingga meluas mengarah ke batas hutan CA Duasudara.


Tidak hanya itu, sekitar pukul 11.15 Wita, lahan perkebunan Duasudara Tower Kincir Angin Kelurahan Duasudara juga terbakar dan mulai merambat.


“Tim gabungan masih bahu membahu untuk melakukan pemadaman di lokasi,” kata Hambali seraya mengatakan, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Damkar Satpol PP, relawan dan masyarakat masih terus berupaya melakukan pemadaman agar tidak meluas.


“Api begitu cepat merambat karena cuaca berangin, namun beruntung beberapa lokasi sudah berhasil dipadamkan dan semoga tidak kembali menyala,” katanya.


Hambali sendiri mengaku, dibandingkan daerah lain di Sulut, Kota Bitung jauh lebih tanggap berkat adanya Posko pencegahan Karhutla.


“Kami tinggal membackup karena di lokasi-lokasi yang rentan terjadi Karhutla sudah ada posko,” katanya.(*)


Penulis: Zulmiron




 
Berita Lainnya :
  • Humas Kementerian LHK Bikin Monitoring Berita Harian
  •  
    Komentar Anda :

     
     
    + Indeks Berita +
    01 Wagubri: PSBB Dihentikan, Masyarakat Tetap Kedepankan Protokol Kesehatan
    02 Indra Yovi: Kasus Covid-19 di Riau Sudah Mendekati Normal
    03 Akun Facebook Waka DPRD Kuansing Dibajak, Yasin : Besok Kita Lapor Polisi
    04 Petugas PLN UP3 Rengat Berjibaku Siang Malam Memulihkan Sistem Kelistrikan di Reteh
    05 Masrul : Libur Sekolah Diperpanjang
    06 Ulama Kuansing Minta Gubernur Riau Batalkan Izin Pacu Jalur Dimasa Pandemi
    07 Selasa, Rektor UIR Lantik Wakil Dekan Fakultas dan Wadir Pascasarjana
    08 Ustadz Dedi : Santri dan Santriwati Kita Tidak Hanya Warga Kuansing
    09 IMM Kuansing : Perlu Kajian Ulang Pelaksanaan Pacu Jalur Dimasa Pandemi
    10 Status PSST Bandul Diperpanjang 14 Hari
    11 Usman: Dalam Pendistribusian, PLN Menunggu dari Tim Koordinator Lumbung Pangan RW Siaga
    12 Doni: Disinyalir Hanya Diberikan untuk Kecamatan Payung Sekaki
    13 Akibat Layang-Layang, 114 Lokasi di Pekanbaru Sering Padam Listrik
    14 Ada Cacing Belatung, 34 Kaleng Ikan Sarden Merek Poh Sung Ditarik
    15 New Normal, Pemprov Riau Diminta Bergerak Cepat Melakukan Sosialisasi Secara Masif
    16 Enam Ton Beras Bantuan CSR PLN Masih Mengendap di Gudang PT SPM
    17 Forum Pemred Desak Polisi Proses Pelaku Teror Terhadap Wartawan Detik.com
    18 PWl Kecam Aksi lntimidasi dan Ancaman Pembunuhan terhadap Wartawan Detik.com
    19 Pendisiplinan Masyarakat, Personil Polresta Pekanbaru Gunakan Smart Helm
    20 Hadapi New Normal Covid-19, Pemkab Meranti Bersiap Melakukan Sosialisasi ke Masyarakat
    21 38 KK Bukit Lembah Subur Terdampak Covud-19 Terima BLT Dana Desa
    22 Kemenkes Buat Protokol New Normal di Beberapa Bidang
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami
    © HarianTimes.Com - #Kanal Informasi Public